ensiklomedi

Penjegalan Mad’u

In CuMi on December 2, 2008 at 1:31 am

“Eh, dhek. Kamu jangan ngaji ke situ. Kalau ngaji satu aja!”
“Lho, kenapa?”
“Biar nggak bingung, lagian ustadzku lebih pinter lho!”
“:?”

Ungkapan di atas biasanya diucapkan senior kepada mahasiswa baru atau pelajar SMU baru yang sedang pengin-penginnya mendalami ilmu agama. Tidak semua memang, tetapi banyak senior yang seperti itu. Ketika mahasiswa baru sedang jatuh cinta sama taklim, lingkungan ngaji, dan suasana Islami, mereka dihadapkan pada sebuah kenyataan akan adanya persaingan tidak sehat antarkelompok ngaji.

Mereka dikenalkan dengan istilah Salafy, Salafy-Haraky, Jamaah Tabligh, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Hizbul Khilafah, Ikhwanul Muslimin, NII, dan beraneka nama kelompok ngaji lainnya. Sesama mereka lebih banyak saling menjatuhkan antara satu dengan yang lain. Mending kalau alasannya adalah keilmiahan pengambilan ilmu, tapi ternyata sebagian besar perselisihan itu muncul karena rebutan mahasiswa baru dan bersumber dari hawa nafsu.

Saya pribadi yakin tidak ada kelompok ngaji yang mendoktrin pengikutnya untuk ashobiyah (fanatik) terhadap golongan ngaji mereka. Karena saya berhuznudzon, mereka pasti memiliki niat dan motivasi yang baik dalam dakwahnya. Tetapi seiring waktu berjalan, tantangan dakwah semakin lebar dan godaan dunia semakin menganga. Membuat para pengikutnya, bahkan juga penggedenya, mulai silau dengan dunia.

Niat berdakwah mulai melenceng. Dari yang awalnya lillahi wa lirasulihi (untuk Allah dan Rasul-Nya) berubah menjadi niat mencari massa dan pendukung.

Maka tidaklah heran bila terjadi praktek-praktek penjegalan-penjegalan di sana sini. Penjegalan-penjegalan mad’u (obyek dakwah) terjadi karena adanya perasaan takut kehilangan pengikut. Sehingga mad’u dilarang untuk mencari ilmu di tempat lain, pokoknya harus ustadz made in kelompok sendiri, nggak boleh dari kelompok lain.

Sepanjang proses ‘penjegalan’ dilakukan dengan dialog dan diskusi yang ilmiah, mendidik dan transparan, tidaklah menjadi soal. Artinya di mad’u ditunjukkan beberapa sisi buruk dan sisi lemah sebuah kelompok dengan dalil yang qath’i dari Qur’an dan Sunnah secara seimbang, kemudian mad’u diberi keleluasaan berpikir dan bertanya tentang hal-hal yang membingungkannya. Sehingga proses pencerdasan ummat berjalan dengan baik. Kemudian kalau toch si mad’u menerima seruan ‘penjegalan’ itu, maka ia menerima dengan akal dan hati nuraninya, bukan atas nama ashobiyah dan fanatik buta. Tetapi kalau proses penjegalan dilakukan karena hawa nafsu dan serakah akan pengikut, maka hal itu sungguh sangat memalukan dan memilukan. Setidaknya bagi nasib generasi Islam di masa mendatang. Semoga saja tidak! (Shad)

> diketik diulang dari rubrik Cakruk, Qolbunsalim edisi 43, tulisan kang Burhan <

Advertisements
  1. memang, seringkali setiap anggota kelompok ngaji tertentu tidak mengajarkan pada anggotanya untuk bersikap terbuka dan siap belajar atau berjuang bersama dengan kelompok lain.
    tapi ada lho kelompok yang siap terbuka, dan mengadopsi ilmu dari orang lain, kalau dalilnya lebih kuat. dan di peer group itu (kelompok itu) mengajarkan pada anggotanya untuk tidak bersikap eksklusif (tidak mau bergabung dengan orang diluar kelompoknya), peer group itu berjuang demi umat, perjuangan yang tulus yang sesuai dengan metode yang dicontohkan rasululllah…
    hehe..ini comentar berdasar sudut pandang objektif, sudut pandang umat islam pada umumnya… http://www.ipayantie.wordpress.com

  2. Saya termasuk dalam salah satu kelompok yang disebutkan di atas, saya juga pernah mengalaminya. Lalu sejalan dengan pemahaman saya sekarang saya mengerti bahwa berdakwah adalah tugas dari Allah, cukuplah saya menyelesaikan tugas itu dengan lebih baik tanpa membebankan diri saya dengan keharusan menambah jumlah kader. Cukuplah Allah yang menentukan apakah saya layak untuk diberi amanah yang lebih atau tidak.

  3. yup.btw, soal kader bukannya itu maksudnya dakwah. kan wajib tuh? dalam konteks nyebarin kebenaran islam apa yang kita tau.biar rahmat islam tersebar luas. semkin banyak orang yang mengerti berarti semakin mudah tercipta sebuah peradapan islam, hehe, spt iklan di majalah udara di radio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: